Anjuran Tidak Berjama’ah di Masjid, Apa Masuk Ancaman Orang yang Melarang ke Masjid?

Oleh: Abdul Wahid Al-Faizin

Fatwa MUI

Saat ini banyak sekali yang menghujat MUI atau satu ormas tertentu karena membuat edaran untuk tidak berjamaah ke masjid karena virus CORONA. Mereka berasalan edaran tersebut masuk dalam ancaman melarang orang ke masjid seperti dalam ayat berikut:

“Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang melarang di dalam masjid-masjid Allah untuk menyebut nama-Nya, dan berusaha merobohkannya? Mereka itu tidak pantas memasukinya kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka mendapat kehinaan di dunia dan di akhirat mendapat azab yang berat” (QS. Al-Baqarah: 114).

Sebenarnya saya tidak dalam membela edaran dan fatwa tersebut karena saya sendiri juga masih ngimami dan shalat Jum’at di masjid dengan protokol yang dianjurkan. Hanya saja menurut saya tidak etis kalau kita menghujat berlebihan apalagi hanya didasari nafsu tanpa ilmu.

Meninggalkan satu sunnah untuk sunnah yang lain

Edaran itu kalau kita artikan melarang orang ke masjid, maka akan menjadikan orang bisa sangat tidak setuju bahkan menghujat. Berbeda kalau anjuran itu kita artikan meninggalkan Sunnah Rasul yang satu (jama’ah di masjid) menuju Sunnah Rasulullah yang lain yaitu shalat berjamaah di rumah karena satu alasan. Kalau diksi kedua yang dipakai tentu akan lebih adem dan bisa diterima. Bukankah larangan datang ke masjid dengan alasan tertentu itu juga salah satu Sunnah Rasulullah seperti disebutkan dalam hadits berikut ini:

“Siapa yang makan bawang putih dan bawang merah, hendaknya dia menjauhi kami.” Atau beliau berkata, “Hendaknya dia menjauhi masjid kami dan berdiam di rumahnya.” (HR. Muslim)

Dalam hadits yang lain Rasulullah menjelaskan larangan masuk masjid tersebut dengan menyatakan:

“Barangsiapa yang makan dari tanaman ini, maka hendaknya dia tidak mendekati masjid kami dan tidak menggangu kami dengan bau bawang putih” (HR. Muslim)

Menurut Imam Ibn ‘Abdil Barr larangan tersebut juga berlaku bagi setiap orang yang berpotensi mengganggu atau membahayakan orang muslim. Beliau menegaskan:

“Jika alasan untuk mengeluarkannya dari masjid adalah perkara yang dapat mengganggu orang lain, maka dapat diqiyaskan bahwa semua yang dapat mengganggu orang di sekitarnya di masjid, misalnya lisannya kasar atau berbuat onar di masjid, atau melakukan keangkuhan, atau memiliki aroma tak sedap atau penyakit yang berbahaya seperti kusta dan semacamnya dan apa saja yang dapat mengganggu orang lain di sekitarnya dalam masjid, jika mereka ingin mengeluarkannya, maka mereka berhak untuk itu, selama alasannya ada hingga hilang. Jika alasannya sudah tidak ada, maka dia dapat hadir kembali ke masjid”

Apa yang disampaikan oleh Imam Ibn ‘Abdil Barr tersebut selaras dengan hadits Rasulullah:

“Orang yang sakit janganlah datangi orang yang sehat.” (Muttafaq ‘Alaih)

Mari bijak dalam menyikapi sesuatu apalagi dalam kondisi seperti saat ini.

Tinggalkan Balasan