Apa itu Syariah?

Pengertian Syariah

Menurut bahasa atau etimologi, syariah atau syariat berarti jalan, jalan ke sumber mata air, yakni jalan lurus yang harus diikuti. Dalam hal ini, agama yang ditetapkan Allah untuk manusia disebut dengan syariah.

Secara terminologis, Muhammad Ali al-Sayis mengartikan Syariah dengan jalan “yang lurus”. Kemudian pengertian ini dijabarkan menjadi: “Hukum syara’ mengenai perbuatan manusia yang dihasilkan dari dalil-dalil terperinci”. Syekh Mahmud Syaltut mengartikan syariah sebagai hukum- hukum dan tata aturan  yang disyariatkan oleh Allah bagi hamba-Nya untuk diikuti.

Sedangkan menurut para ahli, definisi syariah adalah: “ Segala titah Allah yang berhubungan dengan tingkah laku manusia di luar yang mengenai akhlak”. Di mana syariat memuat ketetapan-ketetapan Allah dan ketentuan Rasul-Nya, baik berupa perintah maupun larangan, dengan meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.

Syariah Menurut Ulama Madzhab

Menurut ilmu fikih, terdapat dua pandangan besar dalam mengartikan syariah, yaitu sebagai berikut:

Imam Abu Hanifah

Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa “syariah adalah semua yang diajarkan oleh Nabi Besar Muhammad yang bersumber pada wahyu Allah. Hal ini tidak lain adalah sebagai bagian dari ajaran Islam.”

Imam Syafi’i

Imam Syafi’i mengatakan bahwa “ syariah merupakan peraturan-peraturan lahir batin bagi umat Islam yang bersumber pada wahyu Allah dan kesimpulan-kesimpulan (deductions) yang dapat ditarik dari wahyu Allah dan sebagainya. Peraturanperaturan lahir itu mengenai cara bagaimana manusia berhubungan dengan Allah dan dengan sesama makhluk lain selain manusia.”

Tujuan Syariah

Menurut ‘Allal Al-Fasiy, maqashid syariah adalah : Tujuan yang dikehendaki syara’ dan rahasia-rahasia yang ditetapkan oleh Allah pada setiap hukum. Adapun inti dari maqashid syariah adalah untuk mewujudkan kebaikan sekaligus menghindarkan keburukan, atau menarik manfaat dan menolak mudharat untuk mencapai kemaslahatan, karena tujuan penetapan hukum dalam Islam adalah untuk menciptakan kemaslahatan dalam rangka memelihara tujuan-tujuan syara’.

Dalam kitabnya Maqashid As Syariah Al Islamiyah, Ibnu ‘Asyur menyatakan bahwa maqashid syariah adalah makna-makna dan hikmah-hikmah yang dicatatkan/ diperlihatkan oleh Allah dalam semua atau sebagian besar syari’at-Nya, juga masuk dalam wilayah ini sifat-sifat syariah atau tujuan umumnya.

Inti dari maqashid syariah adalah untuk mencapai kemaslahatan umat yang sebesar-besarnya, karena tujuan penetapan hukum dalam Islam adalah untuk menciptakan kemaslahatan dalam rangka memelihara tujuan-tujuan syara’. Adapun tujuan syara’ yang harus dipelihara itu adalah 1) menjaga agama, 2) menjaga jiwa, 3) menjaga akal, 4) menjaga keturunan dan 5) menjaga harta.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seseorang mukallaf akan bisa memperoleh kemashlahatan jika ia mempunyai kemampuan untuk menjaga lima prinsip di atas, dan sebaliknya ia akan mendapatkan kemudharatan jika ia tidak bisa menjaga lima hal tersebut.

Untuk mewujudkan kemashlahatan itu, menurut Muhammad Said Ramadhan Al Buthi ada lima kriteria yang harus dipenuhi, yaitu: Pertama, mempriotaskan tujuan-tujuan syara’; Kedua, tidak bertentangan dengan Al Qur’an; Ketiga, tidak bertentangan dengan sunnah; Keempat, tidak bertentangan dengan prinsip qiyas; dan Kelima, memperhatikan kemashlahatan lebih besar yang dapat dicapai.

Ruang Lingkup Syariah

Ruang lingkup syariah sebenarnya mencakup keseluruhan ajaran agama Islam, baik itu yang berkaitan dengan akidah, ibadah, akhlak, maupun muamalah. Kedudukan syariah dalam ajaran Islam adalah sebagai bukti akidah, dan setiap perbuatan yang didasari oleh akidah akan menjadi akhlak. Dengan demikian, seluruh hukum syara’ yang Allah turunkan memiliki ruang lingkup yang mengatur hubungan manusia dengan Allah (ibadah) dan hubungan manusia dengan manusia lainnya (muamalah).

Syariah dalam Ibadah

Syariah yang mengatur hubungan manusia secara vertikal dengan Allah, seperti sholat, puasa, dan haji, serta yang juga berdimensi hubungan dengan manusia, seperti zakat . Hubungan manusia dalam bentuk peribadatan biasa dengan Allah disebut ibadah mahdhah atau ibadah khusus, karena sifatnya yang khas dan tata caranya sudah ditentukan secara pasti oleh Allah dan dicontohkan secara rinci oleh Rasulullah.

Syariah dalam Muamalah

Syariah yang mengatur hubungan manusia secara horizontal, dengan sesama manusia dan makhluk lainnya disebut muamalah. Muamalah dalam arti luas, tata aturan syara’ yang mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia dan hubungan manusia dengan benda.

Muamalah dalam arti luas ini pada garis besarnya terdiri atas: hukum perdata, hukum niaga, hukum nikah, hukum waris. Sealin itu, muamalah juga mengatur hukum publik yang meliputi: jinayah (hukum pidana), khilafah (hukum kenegaraan), jihad (hukum perang dan damai. Dengann demikian syariah memberikan kaidah-kaidah umum (universal) dan kaedah kaedah terperinci dan sangat pokok (fundamental).

Tinggalkan Balasan