Bahanyanya Ilmu Cocoklogi dalam Menafsirkan Al Qur’an

Oleh : Abdul Wahid Al-Faizin

Dalam situasi Corona seperti ini banyak sekali tulisan yang dibagikan yang berisi ilmu cocoklogi dalam Al-Qur’an dengan judul “MASYA ALLAH INIKAH ARTI QORONA DALAM ALQUR’AN??. Berikut adalah penggalan tulisannya

Saya dapati lafazh Qarana (قَرْنَ) ada di QS. Al Ahzaab: 33. Saya jadi tercengang ketika melihat potongan ayat tersebut.

وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْاُوْلٰى وَاَقِمْنَ الصَّلٰوةَ وَاٰتِيْنَ الزَّكٰوةَ وَاَطِعْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاِنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًاۚ – ٣٣

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu, dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya

Pesannya sangat jelas bahwa lafadz Qarana mengandung arti perintah untuk tinggal. Tinggalnya dimana? Dirumah-rumahmu, di keluargamu, karena kata Nabi rumahku adalah surgaku. Rumah kalian adalah sorga kalian semua. Ciptakan sorga di keluarganya masing-masing. Coronavirus menggiring kembalinya kesadaran bahwa yang paling hakekat dalam kehidupan adalah keluarga.

Untuk mendapatkan info menarik lainnya bisa juga berkunjung ke Infiapedia.com

Cocoklogi terhadap ayat al Quran

Sekilas seakan-akan tulisan tersebut menunjukkan kehebatan Al-Qur’an. Padahal sebenarnya melecehkan Al-Qur’an karena ditafsirkan menggunakan ilmu cocoklogi. Orang yang mengerti bahasa Arab pasti tahu bahwa lafazh قرن itu berarti “berkumpul, bergabung, bersama dan yang searti dengan itu” bukan malah berarti “menetap”. Lalu kenapa dalam terjemahan ayat di atas diartikan “hendaklah kamu tetap”?

Nah inilah pentingnya kita memahami bahasa Arab sebelum mengartikan apalagi menafsirkan Al-Qur’an. Nun (ن) dalam lafadz وَقَرْنَ bukan nun asli tapi merupakan tambahan yang menunjukkan jama’ (plural) untuk perempuan karena itu perintah untuk para istri Nabi. Begitu pula wau (و) dalam lafazh tersebut adalah penghubung dari perintah yang ada di ayat sebelumnya. Jadi kata kerja dalam lafazh tersebut adalah lafazh قَرْ bukan قَرْنَ. Lalu apa arti lafaz قَرْ?

Menurut imam Al-Baghawi dalam kitab Tafsirnya lafazh قَرْ berasal dari dua kata. Pertama, berasal dari kata قَرَّ yang berarti “menetap” sehingga lafaz قَرْنَ berasal dari lafazh اقْرَرْنَ. Alif (ا) dan ra’ (ر) pertama dalam lafazh اقْرَرْنَ tersebut kemudian dibuang sehingga menjadi قَرْنَ. Hal ini sebagaimana mana yang terjadi pada lafazh ظَلَّ dalam surah Al-Waqi’ah: 65 yang menjadi فَظَلْتُمْ تَفَكَّهُونَ. Dengan demikian lafazh وَقَرْنَ bisa kita artikan “dan menetaplah kalian”

Kedua, berasal dari kata وَقَرَ yang berarti “tenang”. Inilah yang menurut imam al-Baghawi paling shahih. Sehingga lafazh قَرْ adalah bentuk kata perintah dari lafazh وَقَرَ sebagaimana ضَعْ adalah kata perintah dari lafazh وَضَعَ. Dengan demikian lafazh وَقَرْنَ bisa diartikan “dan tenanglah kalian”
[البغوي ، أبو محمد، تفسير البغوي – طيبة، ٣٤٩/٦]

Mari kita berhati-hati hati dalam menafsirkan Al-Qur’an sehingga tidak masuk dalam ancaman

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“Barang siapa berbicara tentang Alquran tanpa disertai ilmu, maka hendaklah bersiap-siap mengambil tempat duduknya dari api neraka, Abu Isa berkata ini hadits hasan-shahih” (HR. Turmudzi)

Tinggalkan Balasan