Fatwa DSN MUI No: 05/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Jual Beli Salam

FATWA
DEWAN SYARIAH NASIONAL
NO: 05/DSN-MUI/IV/2000
Tentang
Jual Beli Salam

Dewan Syariah Nasional setelah

Menimbang             :

  1. bahwa jual beli barang dengan cara pemesanan dan pembayaran harga lebih dahulu dengan syarat-syarat tertentu, disebut dengan salam, kini telah melibatkan pihak perbankan;
  2. bahwa agar caa tersebut dilakukan sesuai denan ajaran Islam, DSN memandang perlu menetapkan fatwa entang salam untuk dijadikan pedoman oleh lembaga keuangan syariah.

Mengingat               :

  • Firman Allah QS. al Baqarah [2]: 283

” ….. Maka, jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah, Tuhannya …“.

  • Firman Allah QS. al Maidah [5]: 1

Hai orang-orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu ….. “.

  • Firman Allah QS. al Maidah [5]: 2

” ….. dan tolong-menolonglah dalam (mengerjakan) kebajiakn ….. “.

  • Hadits Nabi SAW

“Dari Abu Said al Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka“. (HR. al baihaqi dan Ibnu Majah, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban)

  • Hadits Nabi riwayat Bukhari dari Ibn ‘Abbas

Barang siapa melakukan salaf (salam), hendaknya ia melakukan dengan takaran yang jelas dna timbangan yang jelas, untuk jangka waktu yang diketahui“. (HR. Bukhari, Sahih al Bukhari [Beirut: Dar al Fikr, 1955], jilid 2, h. 36).

  • Hadits Nabi riwayat jama’ah

Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezhaliman …..”

  • Hadits Nabi riwayat Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad

“Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu menghalalkan harga diri dan pemberian sanksi kepadanya”.

  • Hadits Nabi riwayat Tirmidzi

Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin, kecuali perdamaian mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat denan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram“. (HR. Tirmidzi dari ‘Amr bin ‘Auf).

  • Ijma’. Menurut Ibnu Munzir, ulama sepakat (ijma’) atas kebolehan jual beli dengan cara salam. Di samping itu, cara tersebut juga diperlukan oelh masyarakat (Wahbah, 4/598).
  • Kaidah Fiqih

Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya“.

Memperhatikan       :

Pendapat peserta Rapat Pleno Dean Syariah Nasional pada hari Sabtu, tanggal 26 Dzulhijjah 1420 H/1 April 2000.

MEMUTUSKAN

Menetapkan     : FATWA TENTANG JUAL BELI SALAM

Petama                : Ketentuan tentang Pembayaran

  1. Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa uang, barang, atau manfaat.
  2. Pembayaran harus dilakukan pada saat kontrak telah disepakati.
  3. Pembayaran tidka boleh dalam bentuk pembebasan hutang.

Kedua                  : Ketentuan tentang Barang

  1. Harus jelas ciri-cirinya dan dapat diakui seabgai hutang.
  2. Harus dapat dijealskan spesifikasinya.
  3. Penyerahannya dilakukan kemudian.
  4. Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan.
  5. Pembeli tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya.
  6. Tidak boleh menukar barang, kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan.

Ketiga                  : Ketentuan tentang Salam Pararel

  1. Dibolehkan melakukan salam pararel dengan syarat, akad kedua terpisah dari, dan tidak berkaitan dengan akad pertama.

Keempat             : Penyerahan Barang Sebelum atau pada Waktunya

  1. Penjual harus menyerahkan barang tepat pada waktunya dengan keualitas dan jumlah yang telah disepakati.
  2. Jika penjual meyerahkan barang dengan kualitas yang lebih tinggi, penjual tidak boleh meminta tambahan harga.
  3. Jika penjual menyerahan barang dengan kualitas yang lebih rendah, dan pembeli rela menerimanya, maka ia tidak boleh menuntut pengurangan harga (diskon).
  4. Penjual dapat menyerahkan barang lebih cepat dari waktu yang disepakati dengan syarat kualitas dan jumlah abrang sesuai dengan kesepakatan, dan ia tidak boleh menuntut tambahan harga.
  5. Jika semua atau sebagian barang tidak tersedia pada waktu penyerahan, atau kualitasnya lebih rendah dan pembeli tidak rela menerimanya, maka ia memiliki dua pilihan: a) membatalkan kontrak dan meminta kembali uangnya; b) menunggu sampai abrang tersedia.

Kelima                 : Pembatalan Kontrak

  1. Pada dasarnya pembatalan salam boleh dilakukan, selama tidak merugikan kedua belah piihak.

Keenam               : Perselisihan

  1. Jika terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak, maka persoalannya diselesaikan melalui Badan Arbitrasi Syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.

Tinggalkan Balasan