Tujuan Syariah: Pengertian Tujuan dan Fungsi Islam

Pengertian Tujuan Syariah

Tujuan syariah ata maqashid syariah secara etimologi (bahasa) terdiri dari dua kata, yakni maqashid dan syariah. Maqashid adalah bentuk jamak dari maqsud yang berarti kesengajaan atau tujuan”. Sedangkan syaririah secara bahasa berarti “jalan menuju air”.

Secara terminologi (istilah) dalam periode-periode awal, syariah merupakan an nusus al muqaddasah dari al Quran dan hadits yang mutawattir atau sama sekali belum dicampuri oleh pikiran manusia. Dalam definisi tersebut, syraiah adalah at tariqah al mustaqimah. Muatan syariah dalam arti ini mencakup amaliyah dan khuluqiyah yang kemudian berkembang dengan masuiknya akidah.

Oleh Mahmud Syaltut, syariah diartikan sebagai “aturan-aturan yang diciptakan oleh Allah untuk menjadi pedoman manusia dalam mengatur hubungan dengan Tuhan, sesama manusia baik sesama muslim atau non-muslim, alam, dan seluruh kehidupan”. Sedangkan Bakri (1996) mengatakan, bahwa syariah adalah “seperangkat hukum-hukum Allah yang diberikan kepada manusia untuk mendapatkan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat”. Kandungan pengertian syariah tersebut secara tak langsung memuat kandungan maqahid syariah.

Menurut Satria Effendi M. Zein, maqashid syariah adalah tujuan Allah dan Rasul-Nya dalam memutuskan hukum-hukum Islam. Tujuan itu dapat ditelusuri dalam ayat-ayat al Quran dan hadits sebagai alasan logis bagi rumusan suatu hukum yang berorientasi kepada kemaslahatan manusia. As Syatibi megnurai hasil penelitian para ulama terhadap ayat-ayat al Quran dan hadits, bahwa hukum-hukum disyariatkan Allah untuk mewujudkan kemaslahatan umat manusia, baik di dunia maupun di akhirat.

Tujuan Syariah

Menjaga Agama

Manusia membutuhkan agama secara mutlak. Tanpa agama tidak ada  gunanya hidup, bahkan agama adalah kebutuhan paling utama dari semua kebutuhan pokok. Untuk melindungi kehormatan agama, syariat menetapkan hukuman yang berat bagi kejahatan agama. Agama menempati urutan pertama, sebab keseluruhan ajaran syariat mengarahkan manusia untuk berbuat sesuai dengan kehendak-Nya dan keridhaan Tuhan. Karena itu di dalam Al Quran & Hadits manusia didorong untuk beriman kepada Allah, dan inilah yang menjadi fondasi ekonomi Islam khususnya. Adapun hubungan ekonomi dengan aspek aqidah ini memungkinkan aktivitas ekonomi dalam Islam menjadi sebuah ibadah.

Menjaga Jiwa

Memelihara jiwa dimaksudkan untuk memelihara hak untuk hidup secara terhormat dan memelihara jiwa agar terhindar dari tindakan penganiayaan berupa pembunuhan, pemotongan anggota badan maupun tindakan melukai termasuk di dalamnya mengkonsumsi makanan-makanan yang bisa merusak tubuh atau berebih-lebihan dalam konsumsi (israf).

Menjaga Akal

Syariat memandang akal manusia sebagai karunia Allah yang sangat penting. Dengan akal manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan adanya akal manusia ditugasi untuk beribadah kepada Allah. Orang tidak berakal tidak dibebani tugas-tugas syariat. Karena itu akal harus dipelihara dan dilindungi. Untuk itulah maka syariat mengharamkan khamar dan seluruh yang dapat membunuh kreatifitas akal dan gairah kerja manusia. Sehingga dalam ekonomi Islam, khamar dan sejenisnya dipandang tidak punya nilai mulai dari produksi, distribusi sampai dengan konsumsi.

Menjaga Nasab (Keturunan)

Kemashlahatan duniawi dan ukhrawi dimaksudkan Tuhan untuk berkesinambungannya dari generasi satu ke generasi lainnya. Syariat yang terlaksana pada satu generasi saja tidak bermakna akibat punahnya generasi manusia. Untuk itu Islam mengatur pernikahan dan mengharamkan perzinahan, menetapkan siapa-siapa yang boleh dikawini, bagaimana tata cara perkawinan serta syarat dan rukun yang harus dipenuhi. Kesemuanya merupakan wujud melestarikan keturunan yang sehat dan bersih dalam suasana yang tenteram dan damai. Dengan demikian akan semakin banyak dan kuat serta terciptanya persatuan dan kesatuan di tengah masyarakat dimana mereka hidup.

Menjaga Harta

Meskipun pada hakikatnya harta benda semuanya merupakan kepunyaan Allah Swt namun Islam mengakui hak pribadi seseorang. Islam mensyariatkan peraturan-peraturan mengenai muamalat seperti jual beli, sewa menyewa, pinjam meminjam, gadai dan sebagainya serta melarang penipuan dan melakukan praktek riba. Memelihara harta juga dipahami dengan mengatur sistem muamalat atas dasar keadilan dan kerelaan, berusaha mengembangkan harta kekayaan dan menyerahkan ke tangan orang yang mampu menjaga dengan baik. Sebab harta yang berada di tangan perorangan menjadi kekuatan bagi umat secara keseluruhan asalkan disalurkan dengan baik.

Fungsi Islam

Agama Islam hakikatnya adalah sistem keyakinan dan prinsip-prinsip hukum serta petunjuk perilaku manusia yang didasarkan pada al Quran, haditsm dan ijtihad ulama dalam rangka menggapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Berdasarkan hal ini, dalam Islam setidaknya terdapat empat fungsi agama.

Sebagai Pedoman Hidup

Pertama, Islam mengandung ajaran-ajaran yang moderat, seimbang dan lurus, atau ad din al qayyim. Islam menyeimbangkan antara urusan dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman: “Dan carilah apa-apa yang dianugerahkan oleh Allah kepadamu (kebahagiaan) di negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dalam (kenikmatan) dunia … (QS. al Qashash: 77).

Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa suatu ketika sekumpulan pemuda dari kalangan Sahabat Nabi berklunjung ke rumah istri-istri Beliau untuk bertanya tentang ibadah Nabi. Setelah mendengar jawaban tentang hal ini, salah seorang dari mereka lalu mengatakan: “Saya akan shalat tahajud sepanjang malam”. Yang lain mengatakan: “Saya akan berpuasa setiap hari sepanjang tahun”. Yang lain lagi mengatakan: “Saya akan menjauhi wanita, tidak akan menikah, dan akan menghabiskan hidup saya untuk beribadah”.

Mendengar perkataan-perkataan mereka tersebut, Rasululullah bersabda: “Kalian telah mengatakan begini dan begitu, demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepaa Allah dan orang yang paling bertakwa kepada-Nya. Tetapi, aku berpuasa dan berbuka, aku shalat malam tetapi juga tidur, dan aku menikahi wanita-wanita. barang siapa yang tidak suka dengan sunnahku, maka dia bukan dari golonganku“. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebagai Penenang Hati

Kedua, fungsi Islam sebagai jalan untuk menggapai kemaslahatan, ketenangan, dan kedamaian serta keselamatan di dunia maupun di akhirat. Semua ajaran Islam bertujuan untuk menciptakan kondisi dan situasi demikian, tak satupun ajaran dari Islam baik itu perintah ataupun larangan yang bertujuan untuk menciptakan kerusakan di bumi apalagi kesengsaraan di akhirat nanti. Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya …” (QS. al A’raf: 56).

Sebagai Penjaga Moral

Ketiga, Islam berfungi sebagai tuntunan bagi manusia agar memiliki al akhlak al karimah (perangai yang mulia). Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia“. Perangai mulia harus kita lakukan, baik itu berhubungan dengan Allah maupun dengan sesama manusia dan alam sekeliling kita.

Al Quran dan hadits serta ijtihad ulama memberikan tuntunan kepada kita bagaimana cara melaksanakan ibadah mahdah, seperti shalat, puasa, dan haji. Ketiga sumber hukum Islam ini juga mengajarkan bagaimana cara berinteraksi sosial dengan santun dan beradab. Dengan demikian, apabila ada satu pandangan keagamaan atau tundakan tertentu yang cenderung meninggalkan unsur al akhlak al karimah seperti kekerasan, pemaksaan kehendak, dan ujaran kebencian maka hal tersebut bukanlah  ajaran Islam.

Sebagai Pemersatu Umat

Keempat, fungsi Islam adalah sebagai pemersatu umat yang berbeda-beda, baik dari keragaman agama, suku, atau adat. Hal ini karena Islam mengajarkan bagaimana berperilaku dan bersikap secara baik terhadap orang-orang yang berbeda-beda.

Pemersatu umat yang beragam telah dicontohkan oleh Rasulullah ketiak memasuki Kota Madinah pada tahun 622 H dengan membuat Piagam Madinah untuk mempersatukan umat islam secara internal dan dengan umat lain yang ada di sana seperti Nashrani dan Yahudi. Atas dasar tersebut, apabila ada pandangan, sikap dan perilaku seseorang cenderung memecah belah umat atau bahkan menimbulkan konflik horizontal, maka harus disikapi dengan waspada dan jangan diikuti karena Islam tidak mengajarkan yang demikian.

Tinggalkan Balasan